Ketika menulis, saya membaca kembali tulisan itu, berpikir, apa gunanya tulisan ini. Saya suka menulis, sedari kecil semenjak SD saya suka berpetualang dalam tulisan, menuliskan segala bentuk khayalan, percakapan, protes dsb. Namun semua itu menguap begitu saja, hilang dan terlupakan.

Ketika MAK/SMA saya kembali melakukannya. Berkhayal, mengumpat, mengeluh dan berharap. Semua itu seperti katarsis yang dibuat bagai sebentuk mekanisme pertahanan atas setiap masalah yang tidak mampu diungkapkan. Semua tertuang dalam banyak buku-buku usang. Tulisan itu berisi metafora dan diksi-diksi yang akhirnya terbuang.

Sampai pada suatu waktu, saya mendapati suatu kalimat dari seorang guru. “Menulis itu melembutkan hati”. Ya, saya setuju, begitulah sejatinya seorang penulis, bukan soal menjadi propagandis, humanis ataupun humoris. Menulis adalah upaya resiliansi diri. Di dalamnya ada imbalan mulia bagi yang melakukannya dengan niat yang tulus, dan semua itu hanya akan berlalu begitu saja jika saya tidak mulai kembali menulis.

Saya beruntung. Allah pertemukan saya dengan Rumbel menulis IIP Batam ini. Hingga saya percaya diri untuk bisa kembali menulis. Menulis bagi saya bukan lagi perkara menyampaikan kemarahan dengan cara seenaknya, menorehkan kekecewaan berlama-lama, bukan lagi itu. Namun menulis membuat saya lebih mampu menata perasaan, menjernihkan pikiran, menghilangkan beban, melembutkan hati, dan kaya dalam berkarya tanpa arogan.

Semoga bersama rumbel menulis IIP batam, harapan itu terwujud.

#RumbelNulisIIPBatam
#RumbelNulisdihati
#menulisdihati
#saya_bisa