Sekitar 2 tahun yang lalu saya menemani suami saat menjadi salah seorang pembicara sebuah bootcamp IT di Bandung, tepatnya di Co & Co Space. Waktu itu kami masih tinggal di Depok, dan tidak punya kerabat di Bandung, namun beruntung teman kuliah suami mengajak kami untuk nginap di rumahnya. Kang Fajar namanya.

Rumah bertingkat dan homey. Lantai dua adalah wilayah kekuasaan kang Fajar. Barisan buku berjejer tersusun di rak-rak yang sekaligus menjadi hiasan rumah yang istimewa di sana. Saya terpan, berkhayal memiliki pustaka pribadi seperti ini juga suatu hari nanti. Kang Fajar lelaki yang cerdas, teman ngotot suami saya kalo adu argumen. Penyuka the Beatles ini orangnya santai namun sangat luas wawasannya. Entah mengapa saya kalau melihat si kang Fajar ini, serasa melihat seluruh kota Bandung lewat wajahnya. Bagaimana tidak, sesampainya kami di sana, doi menawarkan pilihan untuk kami liburan ke mana saja. Dari ujung ke ujung Bandung ia jelaskan sambil menggunakan tangan yang diperagakan di atas karpet. Saya hanya memperhatikan, biarlah suami saya saja yang menelan penjelasannya, saya tidak akan hafal jalan bandung dalam sehari. Kwkwkwk.

Sore harinya kami bertemu dengan satu teman suami lagi, namanya Diki. Teman rohis suami saat masih sekolah di Smansa Bogor. Kami berempat bertemu dan bercerita. Satu pertanyaan yang nyaris belum pernah terlewatkan dari perhatian mereka adalah “kok bisa kami berjumpa dan menikah?” Pertanyaan basi yang menurut suami harus segera dibuatkan F.A.Q untuk menghindari kelelahan menceritakan hal yang sama jika menemukan pertanyaan itu kembali.

Setelah berkeliling mencari kuliner dan berburu distro, kami ke TSM. Rencananya mw nonton bioskop, namun sayang jika kesempatan reuni dan berbincang dengan 2 IT konsultan ini dilewatkan begitu saja. Di tengah berbincang dan bergantian traktir makanan di 3 tempat berbeda, mereka masih sempat berdebat tentang sebuah buku dan bercerita tentang hal-hal lucu di masa lalu. Setelah itu kang Fajar beranjak ke Gramedia. Tidak perlu heran dengan kebiasaannya yang rajin menghabiskan uang saku untuk buku-buku, toh setiap isi pembicaraannya berisi informasi dan kabar seru yang bagi saya selalu baru.

Malam berakhir berganti pagi. Kami bersiap untuk ke Bootcamp. Hal yang paling berkesan dari kang Fajar adalah perhatiannya. Tanpa perlu izin suami saya, menjelang berangkat ia menawarkan sebuah buku.

“Fah, udah baca ini belom?” Sambil menyodorkan buku sabtu bersama bapak-nya Adithya Mulya, “ini bagus untuk pengantin baru, biar ga bosan juga ntar nungguin mas-mu presentasi.”

“Eh, boleh bgt nih, makasih ya kang aku bawa dulu bukunya.” Bahagia banget dong buku inceran didapatkan begitu saja.

Kang Fajar masih jomblo. Sejomblo cerita di novel Jomblo-nya Adithya Mulia, ya novelnya yang pertama. Eh, ampun kang. Kang Fajar teh sebenernya romantis dan so sweet bgt, tapi sayangnya dia sering terjebak dalam situasi friendzone ketika sudah bertemu dengan wanita idaman hatinya. Namun ketika ada perempuan yang mendekati, eh malah si kakang ini yang banyak alasan. Hmmm… padahal si kakang teh sempat curcol soal pertanyaan keluarganya.. “Jar! kamu teh sebenarnya masih ada keinginan untuk menikah apa tidak?” Curcol yang direspon dengan ‘ngakak gak habis-habis’ (aduh saya jadi kebawa2 logatnya si kakang Fajar nyak) hihihew

Walau bagaimanapun saya terkesan dengan kekhawatirannya tentang sebuah waktu yang mungkin bisa berlalu begitu saja. Ya, buku itu. Kang Fajar mengerti dan sangat bisa membayangkan betapa membosankannya acara bootcamp IT jika pesertanya adalah alumni mahasiswa yang baru saja keriting menelan banyak teori psikologi untuk menyelesaikan sebuah skripsi. Saya tersadar, betapa kang Fajar menghargai setiap waktu luang. Waktu itu mahal, sangat rugi jika tidak dimanfaatkan dengan membaca beberapa lembar buku. Sejak saat itu saya selalu teringat untuk membawa sebuah buku jika ingin berpergian.

Yah, meskipun saat ini masih kewalahan dalam mendisiplinkan diri untuk giat membaca buku, pesan itu tetap berharga untukku, juga anak-anakku kelak. Terimakasih kang Fajar, terutama terimakasihku untuk pak suami yang mempertemukan aku dengan hal-hal yang selalu baru bagiku, walaupun nama kang Fajar dan kang Diki sebenarnya sudah basi karena sering diceritakan pak suami. Semoga kang Fajar dan kang Diki segera menikah. Eh, maksudnya segera menikah dengan pasangan masing-masing gituu. Habisnya si kakang berdua teh sepaket sejak kuliah, selalu berantem dan selalu bareng. Udah kayak laki bini ajah.