Buku gurunya manusia yang ditulis oleh bapak Munif Chatib adalah sebah buku yang paling berjasa dalam sejarah pengalaman saya  dalam suatu kesempatan mengajar anak-anak yang luar biasa aktif pada sebuah kursus bahasa Inggris untuk SD. Kenapa buku ini sangat berjasa?

Tahun 2012, setelah KKN saya mengikuti English short course  dalam program 6 minggu bisa. Kelas yang sangat asik dan menyenangkan menurut saya, apalagi metode belajar yang diberikan serta instruktur yang sangat terlatih membuat saya senang dan memperlihatkan kemajuan dan pelan-pelan menyukai grammar. Kemajuan ini ternyata menarik penyelenggara kursus untuk meminta saya menjadi salah instruktur untuk anak-anak. Ternyata saya diminta untuk menjadi instruktur pengganti.

Sampailah pada saat wawancara, Miss Andri seorang senior marketing menjelaskan kondisi kelas dan anak-anak yang akan saya didik. Jumlah mereka 6 orang dan ternyata sudah ada beberapa instruktur yang mengundurkan diri dari mengajar mereka. Terus terang, gambaran kondisi tersebut membuat saya ragu, apalagi ini pengalaman pertama mengajar anak-anak. Nah, sebelum resmi mengajar saya dipersilahkan masuk kelas yang sedang berlangsung, untuk melakukan observasi agar saya memiliki gambaran yang lebih jelas serta kesiapan yang lebih matang untuk mengajar minggu depan.

Hmmm, ternyata apa yang dikatakan Miss Andri sepertinya benar. Dari cara duduk saja mereka terkesan jauh dari sopan santun, tidak memperhatikan guru yang mengajar, melawan jika ditegur dan tidak sabar menunggu sang guru membantu mereka mengerjakan PR dari sekolah. Sejujurnya saya ragu, saya merasa tidak akan mampu berdiri di depan mereka. Padahal mereka masih anak-anak, tapi sesungguhnya saya memang agak takut. Takut gagal sebelum berjuang.

Saya sempat bingung mengenai persiapan apa yang perlu saya lakukan. Esok harinya adalah jadwal bedah buku. Masing-masing instruktur dan siapapun yang terlibat dalam lembaga kursus tersebut wajib ikut sharing tentang sebuah buku bacaan dan ceritakan apa poin penting maupun inspirasi yang bisa diberikan oleh buku tersebut, meskipun hanya 1 bab, itu tidak masalah. Nah, kebetulan 2 minggu lalu saya membeli buku Gurunya Manusia, dan baru membaca sebagiannya, namun saya jadi semangat membacanya kembali agar besok bisa jadi bahan membahas buku.

Selama membaca buku itu, saya seperti menemukan seberkas cahaya dan gambaran alat dan bahan yang perlu saya persiapkan. Ketika membahas buku itu bersama-sama, saya mencatat satu hal penting sebelum mengajar. “Lesson plan” ya, selain membuat lesson plan, metode belajar yang digunakan oleh instruktur program 6 minggu bisa pun saat itu akan sangat membantu, salah satunya dengan memanfaatkan media infocus yang sudah tersedia di ruang belajar. Saya pun mempersiapkan segalanya dalam seminggu.

Hari yang ditentukan telah tiba, jadwalnya hari sabtu siang dan minggu pagi. Saya masih gugup meskipun berusaha tenang. Ada satu hal lagi yang menguatkan saya untuk yakin bisa menghadapi mereka, yaitu pengalaman singkat memberikan terapi pada anak-anak penyandang autisme di sebuah yayasan pada semester lalu. Melatih fokus anak-anak istimewa tersebut bukanlah hal mudah, kita harus ekstra sabar dan telaten melatih mereka. Saat itu saya sempat bergumam dalam hati “senakal-nakalnya anak yang normal, mungkin lebih mudah mengarahkannya dalam belajar”. Tiba-tiba saya tersadar, mungkin Allah menguji saya atas perkataan tersebut, apakah saya bisa menghadapinya atau tidak. Saya memohon ampun kepada Allah serta berdo’a agar diberi kemudahan dalam mengajar anak-anak ini.

Hari pertama berlalu bersimbah keringat dingin. Saya menceritakan proses belajar-mengajar pada selembar narrative journal menggunakan bahasa inggris sesuai aturan yang sudah ditetapkan, dikerjakan setelah kelas usai. Keenam anak tersebut terdiri dari 3 orang siswa kelas 6, 2 orang dari kelas 5, dan 1 orang dari kelas 3. Karakternya berbeda dan saya bersyukur karena 1 di antara mereka cerdas dan proaktif, materi yang saya berikan ditanggapi dengan semangat, jadi saya nggak mati gaya di kelas. Meski begitu, anak-anak lainnya masih belum bisa ditaklukkan dalam 1 hari. Ah, saya rasa perlu mencoba menerapkan teori operant conditioning berupa pemberian reward dan sementara mengabaikan punishment.

Beberapa pertemuan telah dilewati dengan senyuman di akhir kelas, namun perjuangan membuat lesson plan dan berbagai games serta mempersiapkan bahan cerita untuk sepuluh menit pertama di kelas, tidak jarang membuat perut saya mules dan masih mandi keringat dingin. Pilihan cerita lebih banyak saya dapatkan dari buku gurunya manusia, cerita-cerita di dalamnya sangat berguna untuk menggiring gelombang otak anak-anak tersebut ke zona alfa, jika mereka sudah masuk ke zona tersebut, maka mereka akan dengan mudah menerima pelajaran.

Antara senang dan lelah, saya masih menyimpan kekhawatiran akan progress mereka dalam belajar bersama saya. Saya sempat kehilangan semangat setelah beberapa bulan, namun pada sebuah pertemuan, mereka seakan memberi sebuah kejutan. Sabtu itu mereka datang lebih awal diantar orang tua masing-masing seperti biasanya. Mereka berteriak kegirangan saling berlomba menghampiri saya. Rona bahagia terpancar karena ternyata nilai bahasa inggris mereka tinggi semua, naik drastis daripada sebelumnya. Hari itu saya biarkan mereka puas bercerita dan bersenang atas prestasi yang diraih. Saya tertarik bertanya

“Memang sebelumnya nilai Wiya berapa?” Mereka berebut mengulangi bilangan nilainya

“Dulu 30, miss, sekarang 90!”

“Aku dulu 40, sekarang 80!”

“Aku ga pernah dapat 100 lho miss, ini baru dapet malah guruku bilang nyontek.” masing-masing mereka semangat bercerita.

“Lhoo, kok bisa?”

“Ya iya lho, wong dia taunya cuma ngasih tugas, menghukum, sama minta duit. Kalo ga ngerjain PR bayar duit.” Hmmm, saya hanya bisa diam mendengarnya. Sejenak hening, dan Novi yang paling terkesan galak menimpali.

“Miss ngajar ke sekolah kami aja kenapa? Biar kubilang bapakku untuk ganti aja gurunya.”

“Whaaat??? Oh Nooo!!!

Meskipun hari itu saya bahagia melihat kemajuan anak-anak tersebut, saya tetap tidak sanggup membayangkannya. Lagipula menjadi guru bukan passion saya meskipun di mata mereka saya mampu.

Suatu kali kami (para instruktur dan pengurus) melakukan kegiatan visit parent ke rumah para murid yang saya tangani, dan ternyata rumah mereka sangat jauh, 45 menit melalui jalan raya, ditambah sekitar 15 menit menelusuri daerah trans di tengah hutan sawit. Tibalah kami di rumah mereka secara bergantian, ternyata rumah mereka mewah semua, meskipun begitu jauh dari keramaian. Saya termenung membayangkan perjalanan panjang setiap sabtu dan minggu untuk belajar. Belum kalau hujan, jalan becek tanah kuning yang sangat licin dan melekat di roda ban kendaraan.

Beberapa bulan sudah dilewati dengan kesibukan yang luar biasa menguras waktu, pikiran dan perasaan. Tibalah saya pada tuntutan orang tua dan keluarga agar segera mengerjakan TA. Perlahan saya mengajukan keinginan untuk mundur dan meminta mereka mencarikan pengganti. Ya, saya berhasil mundur. Namun setiap pekan saya dititipi pertanyaan dari anak-anak yang mencari saya. Mereka kembali menjadi sangar dan berlembar-lembar narrative journal yang saya terima dari para pengganti hanya bertuliskan kata “give up!” Mereka menyerah di hari pertama. Saya merasa sangat bersalah mengingat tindakan saya yang meninggalkan mereka tanpa pamit. Mereka memilih berhenti dari pada tidak belajar dengan saya.

Selang beberapa bulan, saya mendapat telepon dari salah satu di antara mereka, Putri namanya, mengabarkan bahwa ia mendapat nilai 100 sekaligus mempertanyakan kenapa saya meninggalkan mereka. Saya hanya bisa meminta maaf dan menjelaskan alasannya serta menitip salam untuk anak-anak yang cerdas itu. Anak-anak yang hanya perlu direbut hatinya untuk ikhlas dan nyaman menerima kita.