Kapan pertama kali mengenakan jilbab?

Waaah, kapan ya? Hehe.. Yang paling saya ingat ya mengenakan jilbab di hari pertama masuk MTs (Madrasah Tsanawiyah). Di minggu-minggu pertama, setiap malam saya tidak sabar menunggu pagi menjelang, agar kembali menggunakan jilbab segiempat ke sekolah seperti yang kakak saya lakukan. Kakak saya duduk di bangku kelas 3 dan saya kelas 1.

Ada lagi hal yang selalu saya ingat, di suatu pagi saya menangis (nyaris ngamuk) menjelang berangkat sekolah, karena kehilangan pin jilbab kecil (untuk di dagu), karena saat itu saya belum bisa menggunkan jarum pentul. Saya risau karena si kakak sudah bersiap dan menyuruh saya cepat-cepat. Akhirnya ibu saya menggantinya dengan peniti dan hasilnya jilbab saya longgar, lalu saya berangkat sekolah dengan mata sembab. Hehehe (Sekarang udah gak begini lagi dong.. hihihi)

Hari-hari selanjutnya, saya minta izin orang tua untuk mengenakan jilbab setiap berpergian (tujuannya agar dibelikan jilbab lagi) eh. Alhamdulillah keinginan itu dipenuhi, meskipun saya belom mengerti hakikat berhijab dan belum konsisten menggunakannya.

Ketika duduk di bangku kelas 2, kakak saya yang saat itu sudah melanjutkan sekolah di Sumatra Barat, pulang dalam rangka liburan dan membawa oleh-oleh jilbab, baju muslim dan banyak sekali pin (bros jilbab kecil). Di saat liburan itu pula, kami membuat beberapa foto keluarga untuk dikirim ke abang saya yang saat itu masih kuliah di Cairo al-Azhar, Mesir. Karena kala itu akses internet belum booming.

Nah, dalam foto-foto tersebut sebagiannya saya memakai jilbab, sebagian lagi tidak. Akhirnya si abang menasehati saya mengenai jilbab itu pada balasan suratnya beberapa bulan kemudian. Barulah saya mulai belajar konsisten menggunakannya.

Tibalah masanya saya melanjutkan sekolah ke Kotobaru Padang Panjang, Sumbar. Lagi-lagi mengikuti jejak sang kakak dan kami tinggal di asrama. Di sinilah kami benar-benar belajar tentang bagaimana sepatutnya kita berhijab dan menutup aurat.

Salah satu contoh pembiasaan berjilbab di asrama ini adalah wajib menggunakan jilbab ketika keluar kamar, meskipun hanya ingin bertamu ke kamar sebelah. Sebenarnya saat keluar kamar masih ada koridor dan aula yang tidak langsung menghubungkan penghuninya ke luar ruangan, namun jendela2 yang dibuka saat siang dikhawatirkan bisa menyebabkan orang lain (bukan mahram) bisa melihat aurat kita, baik sengaja ataupun tidak. Salah satu alasannya karena letak asrama anak putra berada di seberang asrama putri, dibatasi sebuah tembok (kami menyebutnya Tembok Berlin), namun jika mereka ke mesjid sekolah, mereka akan melewati sebuah tangga yang langsung menghubungkan area ASPA (Asrama Putra) ke mesjid itu, nah saat di tangga itu lah mereka memiliki kesempatan emas untuk curi-curi pandang ke ASPI (Asrama Putri).

Tradisi seperti inilah yang membuat kami terbiasa dan secara otomatis akan menarik jilbab sorong dan melenggang keluar kamar. Tatkala ada yang khilaf dan terlupa mengenakan jilbab, disamping ia akan merasa seperti ada yang mengganjal, atau bahkan merasa seperti tidak memakai celana (ini saya hihihi), hal ini juga bisa-bisa membuat penghuninya terkena iqab (hukuman) kalau ketahuan qismu Ashihah (tim sekaligus mata-mata yang mengintai adanya indikasi pelanggaran syariat) yang berlaku di aspi.

Alhamdulillah sampai sekarang dan seterusnya, Insyaallah nyaman berhijab.  Ya, memakai jilbab itu membuat kita merasa aman dan nyaman. Menutup aurat itu adalah perintah Allah SWT.