Setelah melewatkan hampir tujuh hari tantangan dari kelas bunda sayang, hari ini saya baru bisa menulis. Ah semoga lancar seterusnya. Kali ini tema tantangannya yaitu “semua anak adalah bintang”. Iya benar, anak itu ibarat bintang yang selalu bersinar di hati kita, menghangatkan relung jiwa, dan mereka juga alasan setiap ibu menjadi bahagia.

Hmmm… Banyak sekali momen indah yang belum semoat terekam ketika menemani anak saat bermain, maupun melakukan kegiatan apa saja. Tak terkecuali saat ia tidur, memandang lekat wajahnya sungguh mendamaikan jiwa. Iya, damai… sang perusuh yang menggemaskan lagi kehabisan daya, sedang mengisi tenaga, dan sang ibunda bisa sedikit berbenah dan mengamankan dunia: rumah yang porak poranda oleh seorang bayi berusia 21 bulan.

Dari pada kepanjangan intro, mending langsung mengikat kenangan malam ini saja. Cerita sederhana, tapi bagi orang tua, semua tentang anaknya teramat berharga. Si kecil sedang belajar berkata-kata. Satu persatu mulai terdengar jelas pelafalannya. Tadinya ia menyebut sapu dengan kata “cipu” sekarang ia mampu mengucapkan “syapu”. Begitu pula kata-kata lain yang mewakili betapa besar rasa ingin tahunya tentang dunia.

Malam ini ia mempelajari ekspresi suara ibu dan ayahnya. Ia mungkin heran dengan reaksi spontanitas yang muncul ketika orang tuanya merasa kaget atau bahkan sakit, sehingga hal ini mendorongnya untuk bertindak dengan melakukan sebuah eksperimen. Ha? Eksperimen apa? Bocil tiba-tiba mencubit lutut saya, cukup keras sehingga saya berkata “aw!” Ia pun seketika menyerukan hal yang sama. Kemudian ia ulangi beberapa kali, juga dengan respon yang sama. Sampai akhirnya pada cubitan hingga cakaran yang lebih sakit hingga saya berseru “aduuuh!” Dan ia pun tertawa serta berucap “aduh” berkali-kali. Ternyata ia mencari cara untuk memancing saya agar mengucapkan kata “aduh” tersebut. Barulah ia berhenti mencubit. Hehe..

#semuaanakadalahbintang

#kelasbundasayang

#institutibuprofesional