Teknologi merupakan representasi kemajuan dalam ilmu pengetahuan yang mengubah cara manusia melakukan berbagai tugas. Idealnya, teknologi akan membuat tugas menjadi lebih mudah, lebih efisien, lebih aman, dan mungkin lebih menyenangkan. Namun sayangnya, teknologi terkini terkadang justru membuat tugas menjadi lebih sulit, lebih lambat, bahaya, atau bahkan bisa menimbulkan frustrasi (Wendy A.R & Arthur D.F).

Teknologi saat ini berkembang semakin cepat dan mengakibatkan banyak distraksi/gangguan. Banyak keuntungan yang bisa kita dapat, terutama berbagai kemudahan dalam komunikasi dan informasi, namun jika kita tidak punya rem yang pakem dalam menghadapi kecepatan arus informasi, mungkin juga bisa menyebabkan depresi.

Saat ini produk teknologi yang paling dekat dengan kita, saya khususnya, adalah smartphone. Tidak perlu penjelasan panjang lebar soal ini dong.. Namun ada hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam hubungan kita dengan gawai (gadget) ini. Ya, manajemen. Ini pula yang selalu menjadi PR besar saya. Di dalam sebuah gawai saja bisa kita temui sekian banyak fitur dan aplikasi yang menawarkan berbagai macam kemudahan untuk memenuhi kebutuhan. Hirarki kebutuhan seakan-akan mampu dicapai dengan perantara smartphone, tidak jarang kita lupa bahwa hirarki kebutuhan untuk aktualisasi diri atau yang lebih tinggi yakni transendensi diri (Maslow) tidak selalu berasal dari gadget.

Kadang saya punya harapan seperti ini; hidup saya tidak diatur oleh gawai, saya berhak mematikan gawai tapanpun saya harus melakukannya. Saya berhak puasa sosmed, saya berhak tidak menghiraukan kegaduhan yakni sumber stressor yang berasal dari keseringan stalking sosmed, maupun ribuan chat dari berbagai group chat. Namun hal ini patut dipertimbanhkan mengingat hubungan kita dengan sesama manusia. Kita tidak bisa pula seenaknya menghilang dari perederan sementara ada tanggung jawab yang kita emban. Kita hidup di era digital, dan tidak bisa terus-menerus  melawan arus (tapi jangan sampai makan kapur barus) 😂

Manfaatkan teknologi dengan bijaksana, tidak musti aktif mengikuti semua group chat, tidak perlu baper ketinggalan flash sale, dan jangan sampai lalai terhadap kewajiban sebagai individu dengan segala peran yang dilakoni.

Di sekitar kita banyak sekali buku-buku berkualitas yang patut dibaca, namun waktu untuk membaca semakin terkikis karena tanpa disadari atau tidak, waktu habis begitu saja karena asyik berselancar di dunia maya. Pernah baca review sebuah buku berjudul sleep revolution by Arriana Huffington , redaksi quote-nya kira-kira begini “jika ingin mendapat tidur berkualitas, tutup dan letakkan gawai pukul 9 malam lalu buka dan bacalah buku.” pilih mana, tidur dengan diantar oleh pengetahuan, atau berhadapan dengan screen yang menghambat produksi hormon melatonin sehingga kita malah makin melek dan bangun pagi dalam keadaan tidak segar a.k.a masih ngantuk. Ah, begitu banyak kebaikan yang bisa di lakukan di dunia nyata, dan nyatanya itu lebih asyik. Seandainya saja saat duduk menunggu apapun, yang kita pegang adalah buku, bukan gawai.

Tema yang diberikan uni Eka ini membuat saya tergerak untuk menasehati diri sendiri secara tertulis, agar saat dibaca kembali saya ingat akan bagaimana sebaiknya hubungan saya dengan sebuah produk teknologi yang satu ini.

Oh iya, sebelum mengakhiri tulisan, saya mau menyampaikan sesuatu dulu.. Bagaimanapun hubungan kita dengan teknologi, keputusan dan kebijakan ada di tangan masing-masing. Eksis di dunia maya bagi sebagian orang justru sangat menghasilkan dan menguntungkan ketika mereka berhasil monetisasi. Nah, yang ga mau rugi dengan waktu yang terbuang via sosmed, silahkan baca buku hits dan recomended tahun ini, yap benar Crushing it! By Gary Vaynerchuk.

Semoga bermanfaat…